STOP & STOP

STOP & STOP

Pernah menjumpai siswa yang ramai di kelas? Instruksi anda tak mempan juga?bahkan konyolnya anda sudah menggebrak meja dan berhasil membuat mereka diam untuk sementara, kemudian mereka kembali tertawa-tawa. Apa pun situasi yang terjadi di kelas, anda harus tetap punya kreativitas dalam menghadapinya.

Seorang guru harus bisa menguasai kelas dengan caranya yang elegan. Ahmadi (2010:61) dalam bukunya menuliskan tujuh dosa guru, yaitu:

  1. Mengambil jalan pintas dalam mengajar
  2. Menunggu peserta didik berperilaku negatif baru ditegur
  3. Menggunakan pemaksaan saat membina peserta didik
  4. Mengabaikan keunikan peserta didik saat mengajar
  5. Malas belajar dan meningkatkan ketrampilan karena merasa paling pandai dan tahu
  6. Tidak adil (diskriminatif)
  7. Memaksa hak peserta didik

Apakah anda termasuk salah satunya? Kami berharap tidak. Apabila pada waktu ini anda belum menguasai kelas cobalah menggunakan metode STOP & STOP. Metode ini sangat sederhana, hanya butuh kejelasan instruksi saja. Tanpa alat atau keahlian khusus. Anda dapat menerapkan metode ini di dalam atau pun di luar kelas. Berikut tata urutannya:

  1. Apabila anda mengatakan STOP, maka peserta didik anda harus berhenti pada saat itu juga, apa pun situasinya. Misalnya, terdapat salah satu peserta didik sedang menguap dan tiba-tiba mendengar anda mengatakan STOP, ia harus diam pada posisi tangan di depan mulut. Intinya, pada saat mendengar kata STOP peserta didik harus berhenti dari aktivitas yang sedang dijalaninya. Dalam situasi ini, peserta didik juga tidak boleh tertawa.
  2. Apabila anda mengatakan STOP & STOP secara tiba-tiba, maka peserta didik harus menaruh tangannya di atas meja. Tangan kiri di bawah tangan kanan (tidak boleh terbalik).
  3. Saat anda mengatakan RILEKS, situasi harus berubah dan peserta didik bebas berlaku seperti yang mereka inginkan.
  4. Saat anda mengatakan MUTE, semua kelas boleh bergerak apa saja, asal tidak ada suara di antara mereka. Mereka tetap boleh berkomunikasi dengan teman sebangkunya, tetapi tetap tidak boleh mengeluarkan suara. Komunikasi bisa dilakukan dengan cara menulis di kertas. Apabila anda mengatakan RILEKS kembali, semuanya akan kembali lagi menjadi normal.

Anda bisa mengkolaborasi tata urutannya. Misalnya dari MUTE ke STOP ke RILEKS ke STOP & STOP, dst. Saat mereka sudah memahami aturan mainnya, sekarang giliran anda untuk menerangkan pelajaran dengan tenang. Jika ada yang melanggar aturan, anda dapat mendiskusikan konsekuensinya dengan peserta didik.

Referensi:

Grafura, Lubis dan Ari Wijayanti. 2011. Metode & Strategi Pembelajaran yang Unik. Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s